Pusat Oleh-Oleh



Bagi anda yang ingin membeli oleh-oleh dan makanan khas Semarang dapat mengunjungi kawasan di sepanjang Jl. Pandanaran ini. Banyak took yang menyediakan berbagai buah tangan yang siap anda bawa pulang, diantaranya wingko babat, bandeng presto, lunpia, kue moci, otak-otak, dan juga jajanan lainnya. Seluruh produk yang dijual ditempat ini dijamin bersih, higienis, berkualitas baik dan yang pasti harganya terjangkau jarena semua barang sudah tercantumkan label harganya. Di salah satu took oleh-oleh yang ada disini, pada setiap akhir pecan anda akan disuguhi atraksi live musik. Sehingga dapat membuat suasana semakin meriah sembari menemani anda berbelanja oleh-oleh khas Semarang.

Ditempuh dengan becak : ± Rp 10.000,00

Ditempuh dengan taxi : ± Rp 10.000,00



Pagoda Avalokitesvara


Bangunan ini terdiri atas tujuh tingkat dimana pada setiap tingkatnya memiliki 4 buah patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke seluruh arah mata angina. Hal ini bermakna bahwa Kota Semarang dilindungi dari segala penjuru. Pembangunannya dilatarbelakangi leh kebutuhan umat Budha akan tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman. Sebelumnya di tempat ini sudah berdiri sebuah vihara kecil sejak tahun 1957. Baru pada tahun 2005 dibangunlah Pagoda Avalokitesvara ini untuk melengkapi tempat ibadah ini. Ada banyak keistimewaan diantaranya relief tangga dari batu (9 naga), patung Dewi Kwan Im raksasa, Pohon Bodhi (pohon sakral bagi umat budha, yang konon di seluruh Pulau Jawa hanya di Semarang saja yang Pohon Bodhi nya dapat tumbuh), lampu naga, patung burung Hon, replika Budha Raksasa. Pagoda ini terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan dan terbuka untuk umum setiap hari.
Ditempuh dengan taxi : ± Rp 40.000,00


Klenteng Sam Poo Kong



Dibangun oleh seorang dari Tiongkok bernama Sam Poo Tay Djien dalam lawatannya ke Semarang. Klenteng ini memberikan inspirasi bagi perkembangan berbagai legenda mengenai kota Semarang. Setiap tanggal 29 Lak Gwee penanggalan Tionghoa, diadakan upacara ritual memperingati hari ulang tahun Sam Poo Tay Djien. Diawalai dengan pawai dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok menuju Klenteng Sam Poo Kong. Tempat ini terletak di Jl. Simongan 129, ± 3 km dari Simpang Lima ke arah barat daya. Dibuka untuk umum setiap hari selama 24 jam.

Ditempuh dengan taxi :± Rp 25.000,00



Gereja Blenduk

Terletak di Jl. Letjen Suprapto No. 32, bangunan ini merupakan gereja pertama yang ada di Kota Semarang. Dengan gaya arsitektur Phantheon, Gereja Blenduk mulai dibangun pada tahun 1753. Kemudian dipugar pada tahun 1894 oleh seorang arsitek Belanda yang bernama HPA de Wilde dan Westmaas. Tempat ini dinamakan Gereja Blenduk karena kubahnya yang menyerupai irisan bola. Oleh masyarakat Semarang dijuluki “mblenduk”. Bangunannya berbentuk hexagonal yang di dalamnya terdapat berbagai interior unik. Ada berbagai kaca patri yang indah, ada orgel yang konon hanya tersisa 2 di dunia, serta bentuk mimbar yang unik. Sampai saat ini Gereja Blenduk masih digunakan sebagai tempat Ibadah

Di tempuh dengan taxi : ± Rp 30.000,00



Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah adalah sebuah bangunan yang mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi di Madinah. Bentuki penampilan arsitekturnya merupakan gubahan baru yang mengambil model tradisi para wali dengan membubuhkan corak universal arsitektur Islam pada bangunan utamanya. Tempat ini terletak di Jl. Gajah Raya, Kel. Sambirejo, Kec. Gayamsari dengan menempati lahan seluas 10 Ha dan mampu menampung 13.000 jamaah.


Disamping bangunan masjid, disini juuga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas penunjang diantaranya, ruang kantor, ruang pertemuan, perpustakaan, hotel, toko cinderamata dan anda juga dapat menikmat keindahan kota Semarang dari ketinggian 99 meter. Pada Menara Al-Husna ini juga terdapat restaurant yang dapat berputar 360 derajat dan juga museum sejarah Islam.

Ditempuh dengan taxi : ± Rp 30.000,00



Kota Lama



Semarang telah menjadi kota yang strategis di pesisir utara Pulau Jawa. Sejak jaman penjajahan Belanda, baik sebagai Kota Perdagangan maupun Ibukota pemerintahan Kolonial Belanda. Sisa – sisa kejayaan pemerintahan Belanda masih tergambar jelas dari kokohnya bangunan yang berdiri di Kota Lama ini. Gedung-gedung tua itu sampai saat ini masih dimanfaatkan sebagai perkantoran, rumah ibadah, maupun restoran diantaranya Stasiun Tawang, Gereja Blenduk, Gereja Gedangan, Nilmij, Taman Sri Gunting, Gedung Marba, Marabunta, De Spiegel. Kawasan ini telah direvitalisasi dan dijadikan kawasan cagar budaya. Untuk menanggulangi rob dan banjir, Pemerintah Kota Semarang membangun sebuah polder pengendali banjir yang terletak di depan Stasiun Tawang. Disana anda juga dapat berwisata dengan menaiki sepeda air dan menyusuri kawasan citywalk untuk mengenang kejayaan Belanda jaman dahulu.

Ditempuh dengan taxi : ± Rp 30.000,00



Kampoeng Wisata Taman Lele


Obyek wisata ini dahulu dikenal dengan nama Taman Lele. Di tempat ini terdapat danau buatan yang dikelilingi gazebo untuk beristirahat, banyaknya pepohonan yang tumbuh, membuat suasana sejuk dan menyegarkan. Anda juga dapat menikmati sepeda air untuk berkeliling danau buatan yang berada di tengah-tengah taman. Selain itu juga ada kebun binatang mini yang dapat anda kunjungi. Bagi anak-anak, dapt menikmati kolam renang. Tempat ini sangat cocok dijadikan sebagai persinggahan bagi mereka yang akan mengunjungi Semarang melalui jalur darat pantura. Di tempat ini dilengkapi dengan hotel yang tarifnya terjangkau. Terletak di tepi Jalan Raya Tugu, tempat wisata ini dibuka untuk umum setiap harinya mulai pukul 08.00-18.00 WIB Ditempuh dengan busway : ± Rp 3.500,00


Lawang Sewu



Terletak bedekatan dengan Tugu Muda, gedung megah ini dahulu digunakan sebagai Kantor Pudat Kereta Api atau yang lebih dikenal dengan Nederlandsch Indische Spoorweg Maschaappij (NIS). Mulai dibangun tahun1903 dengan rancangan arsitektur dari Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B. J. Queendag. Masyarakat Semarang lebih menganal bangunana ini dengan sebutan Lawang Sewu yang berarti Pintu Seribu, karena bangunan ini memiliki pintu dalam jumlah yang banyak.

Sejak peresmian tanggal 1 Juli 1907, Lawang Sewu telah diberulang kali beralih fungsi. Setelah kemerdekaan, bangunan ini digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Indonesia (DKRI), kemudian digunakan kembali oleh KODAM IV Diponegoro sebagai kantor pusat dan yang terakhir digunakan sebagai Kantor Wilayah Departemen Perhubungan.

Ada banyak tempat yang patut anda kunjungi, diantaranya Ruang Bawah Tanah, Ruang Penyiksaan, Menara Informasi, Bangsal Utama. Tempat ini juga sering dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film.

Ditempuh dengan taxi : ± Rp 15.000,00

Ditempuh dengan becak : ± Rp 10.000,00



Tugu Muda


Sebuah tugu berbentuk lilin yang berada di tengah persimpangan antara Jl. Dr. Sutomo, Jl. Pandanaran, Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Mgr. Soegiyopranoto. Tugu ini dibangun sebagai monument untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terjadi pada tanggal 14-19 Oktober 1945. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Budiyono yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Bentuk lilin ini menggambarkan semangat yang tak pernah padam bagi pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Pada kaki monument terdapat relief penggambaran kesengsaraan rakyat Indonesia pada masa penjajah Jepang.


Goa Kreo



Goa Kreo adalah goa yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Menurut legenda, ketika itu Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh untuk menjaga kayu jati tersebut. Tempat ini dinamakan Kreo yang berasal dari kata “Mangreho” yang berarti perliharalah atau jagalah. Semenjak itu, kawanan kera yang menghuni tempat ini dianggap sebagai penunggu. Dan setiap tanggal 3 Syawal, dilakukan Upacara Sesaji Rewanda di tempat ini.

Selain menikmati pemandangan alam yang indah dan udara yang segar, pengunjung dapat menikmati aliran sungai yang berada di bagian bawah. Obyek wisata ini berada di Dukuh Talunkacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati. Tempat ini dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 – 18.00 WIB

Ditempuh dengan taxi : ± Rp 50.000,00 WIB